INTEGRASI POLITIK PAPUA BAGAIKAN VIRUS YANG MENGHANCURKAN MASA DEPAN BANGSA PAPUA BARAT

Murtanichel Tabuni
By -
0

Pembukaan

Sejarah mencatat bahwa proses Integrasi Irian Jaya kedalam NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) tidak terlepas dari berbagai persoalan dan konflik yang terjadi antara Indonesia dan Belanda, pada saat itu masih menguasai Irian Jaya (Papua). Dalam perjuangan guna mencapai tujuan masing-masing pihak, beberapa perundingan pun telah dilalui antara Indonesia dan Belanda dimulai pada suatu perundingan yang dikenal dengan Konferensi Meja Bundar (1949) hingga sampai kepada perjanjian New York Agreement (1962) yang menjadi forum-forum bersejarah proses perjalanan panjang integrasi Irian Jaya masuk ke Indonesia. sejarah integrasi bangsa Papua ibarat penyakit berbahaya untuk menghancurkan Papua. Ditanamkan oleh pemerintah Belanda, Amerika Serikat, Indonesia dan PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa). Mereka merencanakan demi kepentingan, mereka melakukan seperti orang-orang pencuri. Mereka mencuri hak-hak kekayaan alam dan  merugikan masa depan bangsa West Papua.


Bagaimana Amerika dan Indonesia merencanakan kehancuran untuk bangsa Papua Barat ?

Pertama kali Amerika dan Indonesia meracik obat untuk bangsa Papua. Konflik Papua adalah konflik status politik Papua antara Papua versus Indonesia. Diawali pada tahun 1961, muncul keinginan Belanda untuk membentuk negara Papua Barat terlepas dari Indonesia. Langkah Belanda ini dilawan Presiden Soekarno dengan mendekatkan diri pada negara komunis terutama Uni Soviet. Sikap Soekarno ini membuat takut Belanda dan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy. Sebab jika itu dibiarkan maka Indonesia sangat mungkin menjadi negara komunis terbesar di Asia Tenggara.

Ketakutan itu lalu membuat Belanda mengambil sikap untuk menyerahkan masalah Papua ke PBB dan melalui PBB, Belanda mengambil sikap untuk keluar dari Papua dan tidak jadi mempertahankan, Papua lalu Papua diserahkan kepada Indonesia dengan syarat memberi kesempatan kepada rakyat Papua untuk menentukan sikap untuk menentukan nasib mereka sebagai bangsa untuk berdiri sendiri atau bergabung dengan Indonesia proses ini dikenal dengan PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat). Lewat PEPERA (1969) 1,025 orang Papua dipilih oleh TNI (Tentara Nasional Indonesia) dan dipaksa untuk memilih berada dalam NKRI.”(Korwa n.d).


Masalah Papua Ibarat  Dokter, Apoteker dan Pasien

Sejarah integrasi dan status politik Papua ini seperti penyakit yang berbahaya untuk menghancurkan masa depan bangsa Papua oleh Belanda, Amerika Serikat, Indonesia, dan PBB (Perserikatan Bangsa Banggsa) telah berkerja sama demi kepentingan ekonomi untuk menanamkan berbagai macam investasi (virus penyakit) untuk menghancurkan masa depan penduduk OAP. Salah satu penyakit adalah OTSUS (Otonomi Khusus) Papua, OTSUS adalah virus beracun yang berbahaya mematikan atau memusnahkan OAP, menurut pemerintah Indonesia keberpihakan, tetapi program ini menghancurkan masa depan bangsa Papua. Disisi lain pandangan orang-orang Indonesia atas pemberian OTSUS untuk kesejahteraan bagi orang Papua.

Menurut (Yoman,2015:31) dalam bukunya yang berjudul “Kami Berdiri Disini” Sebelum menyampaikan akar masalah Papua yang sebenarnya, Yoman mencoba membuat satu analogi substansi masalah Papua dari perspektif medis meskipun menulis bukan seorang yang berlatar belakang profesi medis.

Penyakit adalah sejenis virus merusakkan dalam tubuh dan kehidupan manusia dimuka bumi ini. Jika penyakit yang bergerilya dan menyusup dalam tubuh manusia maka akan terganggu berbagai jenis penyakit yang bekerja dalam tubuh manusia sesuai dengan jenis kerjanya. Contohnya, penyakit HIV/AIDS yang bekerja dalam tubuh menyerap cairan sumsum tulang, cairan otak dan mengisap darah putih.

Merujuk pada analogi di atas Amerika adalah Dokter, Indonesia adalah Apoteker, Papua ibarat pasien yang sedang sakit. Jadi, Amerika dan Indonesia adalah Dokter dan Apoteker yang salah, Dokter dan Apoteker yang keliru, mereka yang tidak profesional, Dokter dan Apoteker yang tidak menanyakan pasien dengan baik, Dokter langsung buat resep dan Apoteker langsung meracik obat atau mengambil alat suntik dan masukan cairan suntik tanpa pengetahuan penyakit pasien. Dokter dan Apoteker ambil obat sembarangan tanpa pengetahuan penyakit dan jugga tanpa memperhitungkan dosis dan langsung memaksa pasien meminum obat.

Pertama kali, Apoteker Indonesia memberikan obat Otonomi Khusus No. 21 tahun 2001, obat impress, obat keppres, obat peraturan pemerintah (PP), obat triliunan rupiah, obat kekerasan dan obat kejahatan aparat keamanan dan dokter yang sama membuat kesalahan fatal yang terbaru adalah obat. Keputusan peraturan pemerintah unit percepatan pembangunan papua dan papua (UP4B).

Pemerintah Indonesia memberikan abot OTSUS itu sebagai menutupi konflik bangsa papua barat. Obat OTSUS itu tidak ada berguna bagi rakyat bangsa Papua Barat. Obat OTSUS itu dampak buruk bagi orang asli bangsa papua barat Namun, penguasa indonesia memikirkan akar masalah papua itu kesejarahan ekonomi untuk rakyat bangsa papua. Karena bangsa west papua itu miskin, maka mereka memberikan OTSUS untuk kesejahteraan rakyat bangsa papua. Dimata orang Jakarta bagi orang papua itu tidak ada arti atau berguna maka tanah papua itu tempat praktek dan berburu seperti binatang jadi berburu sembarang.


Bagaimana Efek Integrasi dan Kondisi Papua?

Papua dimasukkan secara paksa ke dalam wilayah NKRI melalui rekayasa PEPERA 1969. Rakyat bangsa Papua secara paksa melalui kekerasan operasi militer Indonesia. Karena manipulasi dengan kekuatan militer Indonesia dimasukkan Papua ke dalam wilayah Indonesia. Integrasi Papua dalam wilayah NKRI adalah virus berbahaya Indonesia terhadap bangsa West Papua. Integrasi wilayah Papua adalah akar masalah. Papua diberikan racun dan virus paling ampuh di dunia oleh orang Amerika, Belanda, Indonesia dan PBB. Mereka merencanakan untuk bekerja sama demi kepentingan ekonomi, membunuh OAP, pelang tapi pasti, terjadi karena merancang integrasi yang kini menjadi akar masalah Papua.

Sejak integrasi Papua masuk dalam wilayah Indonesia kasus pelanggaran HAM terus terulang terjadi ditandai dengan rakyat bangsa Papua menerima praktek kolonialisme Indonesia di Papua, ini yang terus menerus terjadi. Beberapa hari kebelakang ini persoalan tabrak lari, keracunan, pembunuhan, mutilasi, perampasan tanah adat dan masih ada banyak lagi pelanggaran HAM terhadap rakyat Papua, masif terjadi karena orang Indonesia menganggap OAP itu sebagai kelas dua di Indonesia.


Apakah OTSUS Untuk Mensejahteraan Orang Asli Papua ?

Negara kolonial Indonesia dalam prakteknya tidak sesuai dengan kata kemanusiaan. Pemahaman Jakarta bahwa rakyat papua itu nomor dua karena praktek dan kebijakan dari Negara Indonesia tidak sesuai dengan rakyat papua barat. Undang undang otonomi khusus papua tahun 2001 adalah obat yang diberikan oleh pemerintah Indonesia jauh dari aspirasi rakyat papua dan penambahan Dosis Obat lagi yaitu Obat OTSUS jilid II tahun 2021 yang di kasih juga tanpa pengetahuan pasien dan memberikan salah obat tetapi paksa  Dokter dan Apoteker ini terbukti jelas bahwa aspirasi penolakan obat OTSUS dan DOB dari 122 organisasi dan 718.179 suara oleh rakyat papua yang terdiri tergabung dalam petisi rakyat papua telah dilakukan namun masih diabaikan oleh Negara.

Dari watak pemerintah Indonesia Obat OTSUS itu untuk kesejahteraan bagi orang asli Papua dan juga pemerintah Indonesia di balik kata OTSUS diartikan menjadi kata kesejahteraan bagi rakyat bangsa Papua Barat. Alasan untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM), infrastruktur, ekonomi dan kemiskinan. Tetapi daerah papua itu daerah rawan konflik salah satu contoh Kab Nduga Operasi Militer tahun 2018 sampai saat masyarakat dalam pengungsian dan tidak merasakan OTSUS.

Namun, Pemerintah Indonesia menyatakan kesejahteraan untuk rakyat Papua memberikan pemberian obat OTSUS jilid dua kepada elit-elit lokal Papua. Obat OTSUS adalah meracik racun. Pemerintah indonesia secara terpaksa untuk mengambil ahli untuk memberikan obat.


Kesimpulan

Seorang dokter berfungsi melakukan pemeriksaan pada pasien untuk mendiagnosa penyakit pasien secara cepat dan memberikan terapi secara cepat dan tepat. Memberikan terapi untuk kesembuhan penyakit pada pasien. dan juga memberikan pelayanan kedokteran secara aktif kepada pasien pada saat sehat dan sakit agar cepat sembuh apa yang dirasakan pasien. Sementara tugas dan fungsi sebagai seorang apoteker secara tegas dan jelas untuk meninjau resep yang dibawa oleh pasien untuk mengurangi kecurangan pembelian obat keras tanpa resep   dokter. Seorang Apoteker berfungsi sebagai meracik orang dan memberikan obat sesuai dengan resep dokter yang diterima dan meracik obat juga lalu memberikan sesuai dengan dosis aturan pakai yang sudah ditetapkan oleh Menkes.

Menurut Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences 2020. Seorang apoteker bertanggung jawab penuh terhadap kualitas obat yang akan digunakan oleh masyarakat dan cara penggunaan obat itu sendiri agar dapat menghindari kesalahan penggunaan obat di masyarakat

Kami rakyat bangsa Papua barat hidup mandiri di tanah leluhur nenek moyang kami. Kami berhak hidup di negeri tanah kami sendiri seperti bangsa lain. Oleh sebab itu, Pemerintah Indonesia harus mengakui dan kembalikan kedaulatan rakyat bangsa Papua Barat (1961) kemerdekaan bangsa Papua Barat secara de jure yang dikebiri oleh bangsa Indonesia sehingga konflik Papua belum selesai sampai saat ini.


Daftar Pustaka

Kami berdiri disini

Posting Komentar

0Komentar

Please Select Embedded Mode To show the Comment System.*